www.AlvinAdam.com

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Bukan Tiongkok, negara ini adalah ancaman terbesar Pasifik dan Melanesia

Posted by On 15.55

Bukan Tiongkok, negara ini adalah ancaman terbesar Pasifik dan Melanesia

Facebook Twitter Google+ RSS RSS Login/Daftar

  • Home
  • Tanah Papua
    • Anim Ha
    • Domberai
    • Bomberai
    • Lapago
    • Meepago
    • Mamta
    • Saireri
  • Berita Papua
    • Polhukam
    • Pendidikan dan Kesehatan
    • Otonomi
    • Nasional & Internasional
    • Lembar Olahraga
    • Jayapura Membangun
    • Infrastruktur
    • Ekonomi, Bisni & Keuangan
    • Seni Budaya
    • Nabire Membangun
    • Pilkada Papua
    • Lingkungan
  • Pasifik
  • Nusa
    • Ibukota
    • Jawa
    • Sumatera
    • Bali & Nusa Tenggara
    • Kalimantan
    • Sulawesi
    • Maluku
  • Artikel
    • Indepth
    • Opini
    • Pengalaman
    • Pernik Papua
    • Perempuan & Anak
    • Selepa
  • More
    • Pilihan Editor
    • Surat & Sumbangan Pembaca
    • Advertorial
    • PR Newswire
    • Berita Foto
    • Rilis pers
  • Resources
    • Blog
    • Arsip
    • West Papua Daily
    • Laporan Warga
    • Saya Komen!!!
  • 2013-2016
Show/Hide
  1. Home
  2. Pasifik
  3. Bukan Tiongkok, negara ini adalah ancaman terbesar Pasifik dan Melanesia
  • Selasa, 24 April 2018 â€" 16:43
  • 806x views
Bukan Tiongkok, negara ini adalah ancaman terbesar Pasifik dan Melanesia Kita yang telah menyaksikan penggunaan militer Indonesia di Timor Timur, telah menyaksikan agenda yang sama berpindah ke Papua Barat, dengan orang yang sama - Jenderal Wiranto - masih berkuasa. Pengunjuk rasa Papua Barat berkumpul di hadapan Parlemen Selandia Baru, saat pertemuan antara Perdana Menteri Jacinda Ardern dan Presiden Indonesia Joko Widodo baru-baru ini. - Asia Pacific Report/RNZI Elisabeth Giay [email protected] Editor : Galuwo LipSus Naomi Selan: Keluarga penyebab remaja Papua salah langkah Features | Senin, 23 April 2018 | 14:10 WP Ekosistem alam teluk Youtefa mulai terancam Features | Senin, 23 April 2018 | 13:37 WP Untuk apa, mantan Panglima GAM minta dukungan Papua? Features | Minggu, 22 April 2018 | 21:52 WP Mengingat Heni “Luna”Lani Features | Selasa, 17 April 2018 | 13:24 WP

PERHATIAN!!!

Penggunaan sebagian atau seluruh materi dalam portal berita ini tanpa seijin redaksi tabloidjubi.com akan dilaporkan kepada pihak berwenang sebagai tindakan pelanggaran terhadap Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 Tentang HAK CIPTA dan/atau UU RI Nomor 19 Tahun 2016 atas perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE)

Papua No. 1 News Portal | Jubi

Oleh Ben Bohane

Tiongkok... Tiongkok... Tiongkok…

Topik yang naik daun akhir-akhir ini adalah pengaruh Tiongkok yang terus meningkat di wilayah kita. Tapi memusatkan perhatian ke negara ini berarti kita mengabaikan satu negara lain yang sama besar dampaknya.

Berlawanan dengan komentar hampir semua pihak, negara destabilisasi terbesar di Melanesia selama lima tahun terakhir bu kanlah Tiongkok tetapi Indonesia, yang melalui kebijakan “melihat ke timur”-nya telah dengan sengaja melumpuhkan Melanesian Spearhead Group (MSG), dan pada saat yang bersamaan membiayai anggota-anggota parlemen lokal dan partai politik di seluruh Pasifik, dengan tujuan untuk menghentikan dukungan regional terhadap pergerakan kemerdekaan Papua Barat.

Indonesia telah mengantongi Peter O’Neil di PNG, dan Voreqe Bainimarama di Fiji, dan sedang sibuk mencoba untuk menetralkan Vanuatu, Kepulauan Solomon, dan FLNKS (Kanak Socialist National Liberation Front) di Kaledonia Baru, ketiga negara melanesia yang dengan gigih menolak cekaman Indonesia.

Alasan Vanuatu dan negara-negara Melanesia lainnya untuk beralih ke Tiongkok, karena mereka lebih khawatir tentang Indonesia, yang sebelumnya secara langsung mengancam Vanuatu karena dukungan diplomatiknya untuk rakyat Papua Barat.

Vanuatu mungkin merasa tersudut, merasa tidak lagi dapat bergantu ng pada Australia, karena Canberra terus mendukung Indonesia dalam apa pun yang mereka lakukan - bahkan saat Jakarta secara terang-terangan melemahkan kepentingan Australia dan Kepulauan Pasifik.

Akumulasi kegagalan strategis yang dibicarakan oleh politisi Australia Richard Marles dan lainnya, tidak terjadi karena Australia gagal untuk mengawasi pengaruh Tiongkok di Melanesia, tetapi akibat kegagalan Australia untuk memeriksa campur tangan Indonesia di negara-negara tersebut.

Selama beberapa dekade terakhir, masyarakat Kepulauan Pasifik menganggap Australia dan Amerika seperti “kakak" mereka akan terus membela komunitas Pasifik, seperti yang telah mereka lakukan sejak Perang Dunia II. Tren ini mulai berubah.

Australia sebagai Bangsa Melanesia

Meskipun secara teknis ia merupakan bangsa Melanesia mengingat masyarakat pribumi di Selat Torres dan Pulau South Sea, anehnya Australia tidak pernah berusaha untuk bergab ung dengan kelompok politik utama di lingkungannya sendiri, MSG, yang sekarang telah dibajak oleh Indonesia atas dukungan dari Fiji.

Satu lagi hal yang nyata di wilayah Pasifik adalah mereka tahu bahwa, walaupun pemerintah Turnball memperingatkan daerah ini tentang pengaruh Tiongkok, anggota senior dalam partainya sendiri juga telah disinyalir menerima bantuan Tiongkok, mulai dari mantan Menteri Luar Negeri Alexander Downer hingga Andrew Robb yang bekerja untuk perusahaan Tiongkok yang penuh kontroversi dalam membeli pelabuhan Darwin.

Dari perspektif Komunitas Melanesia, dua masalah keamanan terbesar yang mereka hadapi adalah perubahan iklim dan meningkatnya campur tangan politik Indonesia di seluruh kawasan Melanesia, campur tangan yang berakar pada keinginannya untuk mempertahankan Papua Barat.

Meskipun mantra yang terus dilafalkan dari Menteri Luar Negeri Julie Bishop bahwa Australia tetap menjadi “mitra pilihan strategis” untuk Vanuatu dan kawas an Pasifik, faktanya adalah Canberra tidak mendengarkan kekhawatiran Melanesia tentang keamanan kawasan mereka sendiri, alih-alih Australia mendikte mereka tentang apa yang paling harus mereka khawatirkan, seperti Tiongkok.

Situasi ini tidak berjalan dengan baik dan negara-negara Melanesia, mulai membentuk sendiri pengaturan keamanan mereka dengan bantuan atau tanpa campur tangan Australia, “kakak” yang mereka anggap telah melakukan banyak kompromi menyangkut isu perubahan iklim dan Indonesia.

Dalam beberapa bulan terakhir kita telah menyaksikan Australia mengambil gerakan mendesak saat disudutkan. Akhir Desember, beberapa pesawat jet RAAF tiba-tiba lepas landas dari pangkalan udara Tindal dekat Darwin, setelah sejumlah jet pembom Rusia terbang dari Biak di Papua Barat, melayang di antara Papua dan Australia Utara.

Tiongkok tahan ekspansi Indonesia

Kita yang telah menyaksikan penggunaan militer Indonesia di Timor Timur, te lah menyaksikan agenda yang sama berpindah ke Papua Barat, dengan orang yang sama - Jenderal Wiranto - masih berkuasa.

Keadaannya tidak selalu seperti ini. Ada suatu periode yang mana pemerintahan Menzies di Australia mendukung rencana Belanda untuk kemerdekaan Papua Barat sepanjang 1950-an dan awal 1960-an.

Mohammad Hatta, salah satu pendiri Indonesia, memperingatkan bangsanya agar tidak mengambil alih Papua Barat, mengatakan bahwa jika itu terjadi maka Indonesia mungkin tidak akan berhenti hingga mereka mendominasi Melanesia samai Fiji.

Hal itu sudah berlalu. Namun, ironisnya, Tiongkok-lah yang mungkin akan menahan ekspansi Indonesia di kawasan Pasifik, bukan Australia.

Hanya dengan mendengar dan kerja sama dengan para pemimpin Melanesia, Australia dapat membantu memperkuat pertahanan Melanesia mulai dari Timor-Leste ke Fiji, dan kembali dilihat sebagai “kakak” dan “ mitra keamanan pilihan” Melanesia. (Asia Pacif ic Report)

Ben Bohane adalah jurnalis dan produser televisi di Vanuatu, spesialisasi dalam melaporkan isu perang dan agama selama hampir 30 tahun di Asia dan Pasifik.

loading...
Please enable JavaScript to view the comments powered by Disqus.

Sebelumnya

Penghunian ilegal Pemerintah Tiongkok di Tahiti

Selanjutnya

Asosiasi Jurnalis Samoa adakan forum Hari Kebebasan Pers Sedunia

Komen Saya

  • Warga Bicara Soal Tiket Pesawat yang Mahal di Papua 26 November 2015 | 11:58 pm
  • Jejak Pasukan Sekutu di Bougainville 23 November 2015 | 11:44 pm
  • 10 Fakta Hiu Karpet Berbintik 23 November 2015 | 11:34 pm
  • Apa Kata Mereka Tentang Kawasan Cagar Alam Cycloop? 19 November 2015 | 11:26 pm

Laporan Warga

Simak Juga MENGKONSUMSI PANGAN LOKAL, MENGUATKAN EKONOMI PEREMPUAN PAPUA
Rabu, 14 Maret 2018 | 22:35
Diproduksi : West Papua Updates (WPU) We st Papua Solidarity For EARTHQUAKE DISASTER IN NEW GUINEA
Rabu, 14 Maret 2018 | 22:31
Diproduksi : West Papua UPdates Tiga Lembaga Publik yang paling sering dilaporkan Masyarakat Papua ke Ombudsman
Rabu, 14 Maret 2018 | 22:18
Diproduksi : West Papua Updates (WPU) Kegiatan Pelatihan Ombusmen Provinsi Papua di Jayapura
Rabu, 14 Maret 2018 | 22:14
Diproduksi : West Papua Updates (WPU) Peresmian Pasar Mama Papua
Minggu, 11 Maret 2018 | 19:32
Diproduksi : West Papua Updates Aksi Penanaman 500 Pohon oleh Mahasiswa STFT GKI I.S.Kijne Jayapura, Papua.
Minggu, 11 Maret 2018 | 19:22
Diproduksi : West Papua Updates, WPU ‹ › Terkini
  • Politikus Golkar pilih mencalonkan DPD dibanding DPR RI

    Polhukam â€" Selasa, 24 Apr il 2018 | 23:40 WP
  • Bupati Pegubin: Pilgub aman, boikot tak akan terjadi

    Pilkada Papua â€" Selasa, 24 April 2018 | 23:28 WP
  • Bupati: Ada dendam politik di balik kasus Pegubin

    Polhukam â€" Selasa, 24 April 2018 | 23:13 WP
  • Pemkot Jayapura optimis jembatan Hamadi-Holtekam rampung sesuai target

    Infrastruktur â€" Selasa, 24 April 2018 | 23:07 WP
  • Pengobatan ODHA di PNG terancam berhenti

    Pasifik â€" Selasa, 24 April 2018 | 19:46 WP
  • Bupati minta FKUB proaktif berkegiatan bersama umat

    Jayapura Membangun â€" Selasa, 24 April 2018 | 19:32 WP
  • Tahun 2019, pelayanan publik berpusat di distrik

    Jayapura Membangun â€" Selasa, 24 April 2018 | 19:25 WP
  • Faktor cuaca, harga bumbu dapur di pasar Pharaa naik

    Ekonomi â€" Selasa, 24 April 2018 | 18:37 WP
  • Pelaksanaan UNBK di Jayapura aman dan lancar

    Penkes â€" Selasa, 24 April 2018 | 18:32 WP
  • Sebanyak 1.660 calon tenaga kerja OAP mengikuti pelatihan

    Ekonomi â€" Selasa, 24 April 2018 | 18:12 WP
Populer Keluarga korban Paniai berdarah pertanyakan kehadiran Jokowi di Papua Polhukam |â€" Minggu, 15 April 2018 WP | 24769x views Untuk apa, mantan Panglima GAM minta dukungan Papua? Lembar Olahraga |â€" Minggu, 22 April 2018 WP | 7137x views Penduduk Pengubin ancam pindah kewarganegaraan Berita Papua |â€" Jumat, 20 April 2018 WP | 3085x views PBB : Papua adalah contoh luar biasa darurat pangan saat ini Berita Papua |â€" Jumat, 20 April 201 8 WP | 2975x views Ancaman pangan lokal Papua bagaikan "malaikat maut" Nasional & Internasional |â€" Minggu, 15 April 2018 WP | 1994x views STOP PRESS
  • Apakah rakyat Papua Nugini akan lenyap akibat makan pinang?

    Selasa, 17 Oktober 2017 | 07:31 WP
  • 7 Tempat Liburan Paling Ngehits di Indonesia. Mana Favoritmu?

    Rabu, 29 Maret 2017 | 15:40 WP
  • Studi: kehidupan terancam, level oksigen jatuh 2% dalam 50 tahun

    Minggu, 19 Februari 2017 | 14:11 WP
  • Inilah 8 temuan jurnalis Indonesia tentang Kebebasan Pers di Papua

    Minggu, 05 Februari 2017 | 10:43 WP
  • Raja Ampat dapat saingan baru?

    Senin, 26 Desember 2016 | 05:40 WP
  • Index »
Teras Lampung Ekuatorial Ber ita Lingkungan DeGorontalo Kabar Kota Berita Bali Kalteng Pos News Balikpapan Suara Kendari Kabar Selebes Suara Papua Cahaya Papua Aceh Traffic Aceh Baru Ranah Minang Merdeka Radio New Zealand International Solomon Star Vanuatu Daily PINA Islands Business Fiji Times Maori TV Post Courier Dedicated for West Papua | From Sorong to Samarai Property of PT Jujur Bicara Papua Search Engine Submission - AddMeSumber: Google News | Berita 24 Pabar

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »