www.AlvinAdam.com

Berita 24 Papua Barat

Subcribe Here!

Enter your email address. It;s free!

Delivered by FeedBurner

Gugurnya Perakit Si Jumbo

Posted by On 18.11

Gugurnya Perakit Si Jumbo

logo

Ilustrasi : Edi Wahyono

Selasa, 24 April 2018

Masuknya kapal induk Belanda Karel Doorman pada 25 Maret 1960 ke perairan Papua membuat Presiden Sukarno meradang. Perjalanan kapal perang yang dikawal kapal pemburu Groningen dan Limburg itu mengangkut sejumlah pesawat jet pemburu Hawker Hunter untuk ditempatkan di Pangkalan Udara Biak.

Berbagai cara ditempuh Sukarno untuk menghadang laju kapal itu, tapi tak berhasil. Karel Doorman tetap merapat di sejumlah pelabuhan di Papua pada Agustus 1 960. Peristiwa itu lah yang mendorong Sukarno untuk menggenjot kemampuan angkatan perang Indonesia.

Kepala Staf Angkatan Darat merangkap Menteri Pertahanan Jenderal Abdul Haris Nasution dipanggil ke Istana Negara. Presiden memberi perintah Jenderal Nasution agar segera memborong senjata dari Uni Soviet. Perdana Menteri Uni Soviet Nikita Sergeyevich Khrushchev pernah menawarkan bantuan militer saat melawat ke Indonesia pada Februari 1960. Namun, atas permintaan Angkatan Darat, Nasution menangguhkan bantuan itu dan memilih mencari bantuan militer dari Amerika Serikat.

Tapi Amerika Serikat enggan memenuhi permintaan Indonesia. Tak ada pilihan lain, mau tak mau, akhirnya Jenderal Nasution berangkat ke Moskow pada akhir Desember 1960. Perundingan negosiasi berlangsung hanya seminggu. Nasution kembali ke Indonesia dengan membawa kesepakatan peralatan tempur senilai USD 450 juta. Angkatan Laut dan Angkatan Udara mendapat prioritas utama mendapatkan peralatan tempur tercanggih dari Soviet pada masa itu.

Meski konfrontasi dengan Belanda berakhir pada 1962, sejumlah alat perang yang ditujukan untuk operasi Tri Komando Rakyat (Trikora) di Papua Barat belum juga datang ke Indonesia. Salah satunya helikopter angkut Mil Mi-6. Heli ini baru tiba di Tanah Air sekitar awal 1965. Saat itu Indonesia juga dalam situasi panas konfrontasi. Kali ini melawan negara jiran Malaysia dalam operasi Dwikomando Rakyat (Dwikora). Helikopter jumbo dari Soviet itu pun disiapkan untuk mendukung jalannya operasi Dwikora.

Kami berusaha menelusuri keberadaan keluarga besarnya sampai ke Depok, tapi belum berhasil."

Kepala Penerangan Lanud Atang Sendjaja, Letkol Sus David Rumayara

Dikapalkan dari Pelabuhan Sevastopol, Ukraina, heli bertubuh tambun tersebut dibongkar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Kala itu, Atang Sendjaja menjabat Komandan Depot Material 091 AURI di Tanjung Priok. Pada Rabu, 28 Juli 1965, Mayor Udara Atang dan rombongan mengangkut komponen-komponen helikopter tersebut dari Tanjung Priok. Rencananya, Mi-6, helikopter terbesar di dunia kala itu, akan dirakit di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Tak seperti perjalanan sebelumnya yang berjalan lancar, kali ini nasib apes menimpa konvoi yang membawa bagian-bagian pesawat heli jenis angkut bertubuh raksasa itu. Mengangkut helikopter yang punya bentang rotor 35 meter dan panjang hampir 34 meter, lebih panjang dari lapangan bola basket, itu memang bukan urusan gampang.

Seperti yang dikutip dari naskah sejarah dari Dinas Perawatan Personel Angkatan Udara, sekitar pukul 22.15 WIB, ekor helikopter bongsor itu te rsangkut kabel listrik tegangan tinggi. "Aliran (listrik) mengenai tubuh Atang Sendjaja, mengakibatkan tubuh beliau hangus dan gugur," Dinas Perawatan menulis. Sejumlah sumber lain menyebut Atang gugur saat melaksanakan tugas Dwikora.

Gugur dalam tugas, pangkat Atang dinaikkan menjadi letnan kolonel. Lembaga Kantor Berita Nasional Antara dalam laporannya pada Jumat, 30 Juli 1965, menyebut jenazah Letnan Kolonel Udara Atang Sendjaja dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, Kamis, 29 Juli, sore melalui upacara militer. Hadir dalam upacara militer tersebut Deputi Menteri/Panglima Angkatan Udara Urusan Logistik Komodor Udara A Andoko dan sejumlah kru dari Uni Soviet yang turut membantu perakitan helikopter.

Atang lahir di Bandung pada 17 Maret 1928. Setelah menamatkan Sekolah Lanjutan Atas pada 1951, ia melanjutkan pendidikannya ke sekolah penerbang. Dua tahun kemudian, mantan tentara pelajar itu masuk Sekolah Perwira Perbekalan. Karier militernya baru dimulai pada 1 Januari 1955 saat diangkat menjadi letnan muda udara satu dan ditempatkan sebagai anggota Direktorat Pembekalan Personel Markas Besar Angkatan Udara di Jakarta.

Enam tahun kemudian, Atang berkesempatan mengikuti kursus Advanced Operations dan Maintenance Course di Moskow, Uni Soviet. Karena pengalaman mengikuti kursus itu pula, pria asal Bandung itu dipercaya pimpinan AURI menjadi anggota misi AURI di Moskow untuk menyelesaikan kesepakatan pembelian sejumlah persenjataan antara Indonesia dan Uni Soviet pada 1961. Misi ini bertugas di Moskow sampai tiga bulan.

Saat gugur dalam tugas, Letkol Udara Atang Sendjaja meninggalkan seorang istri Nyi Raden Omie Sukemi dan lima anak. Sayangnya, pihak Lanud Atang Sendjaja putus hubungan dengan keluarga. "Kami berusaha menelusuri keberadaan keluarga besarnya sampai ke Depok, tapi belum berhasil," ujar Kepala Penerangan Lanud Atang Sendjaja, Letkol Sus David Rumayara.

Setahun setelah Letkol Udara Atang Sendjaja gugur, dalam upacara peringatan Hari Bhakti Angkatan Udara 29 Juli 1966 di Pangkalan Udara Semplak, Bogor, Deputi Operasi Menteri/Panglima AU Laksamana Muda Udara Sri Bimo Ariotedjo menyatakan penggantian nama Lanud Semplak menjadi Lanud Atang Sendjaja.

Lanud Semplak, yang kemudian bersalin nama menjadi Atang Sendjaja, dikenal sebagai pangkalan induk bagi helikopter TNI Angkatan Udara. Sebelumnya, Skadron 6 Helikopter ditempatkan di Lanud Andir, kini Lanud Husein Sastranegara, Bandung. Skadron ini kemudian boyongan ke Semplak, Bogor, pada Maret 1963. Sejumlah skadron yang bermarkas di Lanud ini adalah Skadron Udara 6, Skadron Udara 8, dan Skadron Teknik 024.

Reporter/Redaktur: Pasti Liberti
Editor: Sapto P radityo
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]Sumber: Google News | Berita 24 Pabar

Next
« Prev Post
Previous
Next Post »